Kamis, 04 Oktober 2012

Manfaat Mendengarkan Music

Manfaat Mendengarkan Musik Bagi Kesehatan

Manfaat mendengarkan musik terbukti dapat membantu meningkatkan mood. Jika anda sedang bosan dan malas untuk melakukan pekerjaan maka cobalah untuk mendengarkan lagu favorit Anda.  Musik memiliki pengaruh kuat terhadap pikiran dan tubuh kita, itulah sebabnya mengapa musik dapat mempengaruhi mood dari si pendengarnya. Jika anda pecinta musik dan suka memutar lagu di sela-sela pekerjaan Anda, ternyata hal tersebut memiliki banyak sekali manfaat. Berikut adalah beberapa manfaat mendengarkan musik.

Manfaat Mendengarkan Musik

Mengurangi Stres
Jika saat ini Anda sedang merasa cemas dan takut, cobalah untuk mendengarkan musik. Menurut data dari Asosiasi Terapi Musik di Amerika menunjukkan jika musik dapat membantu menghilangkan stres dan cemas berlebihan. Studi lain juga berhasil mengungkapkan jika pasien yang mendengarkan musik kesukaannya 30 menit sebelum melakukan operasi, tingkat stresnya berkurang dan membuatnya lebih santai. Jadi dapat disimpulkan manfaat mendengarkan musik sangat berguna sebelum menghadapi momen menegangkan dalam hidup Anda.

Meningkatkan Produktifitas Kerja
Pegawai muda memang cenderung memiliki konsentrasi yang lebih baik jika mendengarkan musik instrumental. Jenis musik ini dapat membantu anda fokus pada pekerjaan di kantor. Tapi beberapa lagu yang dapat mempengaruhi tingkat emosional anda justru malah akan mengganggu konsentrasi saat Anda sedang bekerja.

Meningkatkan Stamina
Saat sedang berolahraga pilihlah lagu atau musik dengan tempo yang agak cepat sehingga membuat anda lebih bersemangat dan kalori yang dibakarpun akan semakin banyak, karena tubuh kita seolah bergerak sendiri mengikuti alunan musik yang cepat.

Cara Memakai Jilbab Segi Empat

Cara Memakai Jilbab Segi Empat



Apakah anda masih bingung dengan cara memakai jilbab segiempat? Atau bosan dengan gaya jilbab kerudung segiempat yang standar? Sekarang ini sudah banyak beranekan ragam kreasi jilbab unik yang dapat anda gunakan untuk menunjang penampilan khususnya untuk muslimah yang mengenakan jilbab.
Sudah banyak fashion muslimah yang dipadankan dengan gaya jilbab unik yang sedang ramai di pasaran. Salah satu yang menarik adalah tehnik(cara memakai) jilbab segiempat.
Jilbab segiempat yang umumnya dimiliki para muslimah adalah jilbab paris sehingga jilbab segiempat dikenal dengan sebutan jilbab paris. Padahal masih banyak jilbab segiempat lainnya yang bukan berbahan paris. Jilbab paris sangat disukai karena nyaman digunakan. Tentu saja anda pun bisa tampil beda dengan memakai jilbab paris dengan kreasi yang menarik pastinya.
Berikut ada beberapa gaya tutorial cara memakai jilbab segi empat :
Gaya 1
  1. Siapkan kerudung segiempat kemudian kenakan ciput daleman lalu jilbab segiempat membentuk dasar tengkuk jadi sisi kiri dan kanan diikat dibelakang tengkuk.
  2. Ambil bagian jilbab sebelah kanan untuk menutup leher dan semat dengan peniti / jarum pentul di belakang leher.
  3. Bagian jilbab sebelah kiri dan belakang, lipat menjadi 2 lalu ikat dengan karet gelang membentuk bunga.
  4. Gunakan jarum pentul untu membuka bunga yang terbentuk dari kerudung tadi.
  5. Letakkan bunga / korsase diatas bunga jilbab yang sudah dibuat tadi.



Gaya 2
  1. Pakailah ciput daleman ninja kemudian kerudung segiempat dilipat diagonal membentuk segitiga lalu letakkan kerudung segiempat diatas kepala.
  2. Ambil sisi bagian sebelah kanan kemudian tarik ke bawah leher dan semat di dekat telinga sebelah kiri.
  3. Sisa bagian sebelah kanan ditekuk keluar sehingga memberikan kesan rambut yang di blow kesamping dan semat dengan jarum pentul
  4. Tambahkan bunga / korsase / bros di dekat lekukan jilbab yang keluar tadi untuk mempercantik penampilan anda.
Gaya 3
  1. Ambil kerudung paris dan letakkan diatas kepala yang sebelumnay sudah memakai ciput daleman agar rambut tetap rapi dan tidak keluar-luar.
  2. Kemudian semat di bawah dagu lalu sisi bagian kiri / kanan jilbab salah satu sja ditarik keatas kepala dan semat dengan peniti rumba untuk mempercantik.
  3. Sisa ujung jilbab bagian satunya disemat dengan peniti atau bros kecil.
  4. Lalu sisa bagian jilbab yang didepan ditarik menutupi dada dan agar lebih cantik lagi tambahkan bros / korsase disebelah kanan.
  5. Usahakan bros menempel juga pada baju agar bentuk jilbab anda selalu rapi.

Kisah Sukses Chairul Tanjung

Kisah Sukses Chairul Tanjung



Chairul Tanjung kecil melalui hari-hari penuh keceriaan sebagai anak pinggiran kota Metropolitan. Bermain bersama teman-teman dengan membuat pisau dari paku yang digilaskan di roda rel dekat rumahnya di Kemayoran, adalah kegiatan seru yang menyenangkan. Juga bersepeda beramai-ramai di akhir pekan ke kawasan Ancol, sambil jajan penganan murah, buah lontar.
Kelas 1 hingga kelas 2 SD sekolah diantar jemput oleh Kak Ana, seorang sanak keluarga dari Sibolga, dengan naik oplet. Selanjutnya kelas 3 SD sudah bisa pulang-pergi sekolah sendiri.
Saat usia SMP, Bapaknya ( Abdul Gafar Tanjung ) yang saat itu telah mempunyai percetakan, koran, transportasi dll gulung tikar dan dinyatakan pailit oleh pemerintah karena idealismenya yang bertentangan dengan pemerintah yang berkuasa saat itu ( Soeharto). Sang ayah adalah Ketua Partai Nasional Indonesia (PNI) Ranting Sawah Besar. Semua koran Bapaknya dibredel. Semua aset dijual hingga tak memiliki rumah satu pun.
Mungkin demi gengsi, di awal-awal, Bapaknya menyewa sebuah losmen di kawasan Kramat Raya, Jakarta untuk tinggal mereka sekeluarga. Hanya satu kamar, dengan kamar mandi di luar yang kemudian dihuni 8 orang. Kedua orang tua Chairul, dan 6 orang anaknya, termasuk Chairul sendiri.
Tidak kuat terus-menerus membayar sewa losmen, mereka kemudian memutuskan pindah ke daerah Gang Abu, Batutulis. Salah satu kantong kemiskinan di Jakarta waktu itu. Rumah tersebut adalah rumah nenek Chairul, dari ibundanya, Halimah.
Ibunya adalah sosok yang jarang sekali mengeluhkan kondisi, sesulit apapun keadaan keluarga. Namun saat itu, Chairul melihat raut wajah ibunya sendu, tidak ceria dan tampak lelah. Setelah ditanya, lebih tepatnya didesak Chairul, Ibunya baru berucap : ”Kamu punya sedikit uang, Rul? Uang ibu sudah habis dan untuk belanja nanti pagi sudah tidak ada lagi. Sama sekali tidak ada”.
( Tidak diceritakan lebih jelas akhirnya mendapat solusi dari mana, namun kita bisa tahu bahwa di usia SMP, Chairul sudah menyadari bagaimana kesulitan orang tuanya, bahkan untuk makan sehari-hari. Dan Ibunya adalah sosok yang sangat tabah menjalani kerasnya kehidupan).
Menunggu Bapak Pulang demi Zakat Fitrah
Suatu hari malam takbiran saat saya masih kelas dua SMP. Was-was menunggu bapak yang belum juga pulang. Saya sendirian menunggu beliau di ujung gang seraya berdoa semoga  beliau kali ini membawa uang untuk zakat fitrah kami sekeluarga.
Nanar melihat euforia malam takbiran. Teman-teman sebaya sudah bergembira, beberapa di antaranya bahkan menyewa becak keliling kota.
Beberapa kali air mata ini sempat menetes, sangat sesak rasanya. Ada tetangga yang memperhatikan dan sempat akan memberi zakat, saya tolak. ”Ya Allah, kami masih kuat berdiri. Meski tidak punya uang, kami masih mampu mencari,” saya pikir.
Alhamdulillah, menit-menit terakhir menjelang shalat Id, bapak akhirnya pulang dan memberi sejumlah uang untuk membayar zakat kami sekeluarga.
Pukul 03.30  pagi saya bangunkan pengurus masjid yang tengah lelap dalam tidurnya dan menyerahkan uang itu. Setelah itu lega luar biasa. Langsung bergegas ke masjid untuk shalat Id meski tanpa pakaian baru seperti teman-teman lainnya. Allahu Akbar! Tuntas kewajiban kami, ya Allah!”
Tidak ikut Study Tour ke Yogyakarta
Kelas 3 SMP sebagaimana yang dilakukan di banyak sekolah, diselenggarakan acara study tour yang pengumumannya 2 bulan sebelum keberangkatan.
Pak A.G Tanjung ( bapaknya Chairul ) saat itu mengelola perusahaan transportasi milik kawannya, sehingga otomatis Chairul mengetahui proses kerja penanganan wisata. Maka ia pun dipercaya sebagai koordinator transportasi untuk acara study tour sekolahnya ke Yogya tersebut. Namun sampai tiba waktunya, ibunya tidak mempunyai cukup uang untuk membayar biaya study tour senilai Rp. 15.000,- sehingga dengan alasan ada kepentingan keluarga, Chairul tidak ikut berangkat dalam acara yang bahkan ia sendiri yang sibuk mengurus berbagai persiapan. Ia mengerjakan tugasnya sebagai koordinator dengan seksama dan melepas kepergian teman-temannya di halaman sekolah, dengan perasaan sakit yang disembunyikan serapat mungkin.
Menggadaikan Kain Halus Ibu sebagai Biaya Kuliah
Mendaftar di perguruan tinggi negeri adalah satu-satunya pilihan untuk bisa kuliah saat itu, karena belum banyak pilihan untuk melanjutkan di universitas swasta. Jika pun ada, biayanya sangat tinggi. Jadi jika tidak diterima di negeri, alamat jalan untuk melanjutkan pendidikan tertutup sudah. Tidak mungkin keluarganya dapat membayar biaya kuliah di perguruan tinggi swasta, apalagi semua anak-anaknya masih dalam masa pendidikan.
Maka, adalah sebuah kebahagiaan yang tak terkira saat melihat nama Chairul Tanjung termasuk di antara daftar siswa yang dinyatakan lulus UMPTN. Pulang dari tempat pengumuman di Parkir Timur Senayan, Chairul mengabarkan pada orang tuanya bahwa ia diterima di FKG. Sebuah kabar bahagia tentunya, disertai pemberitahuan lain berupa biaya kuliah di FKG-UI. Total Rp. 75.000,- yang rinciannya adalah Rp. 45.000 untuk biaya kuliah, dan 30.000 untuk biaya administrasi, uang jaket dsb.
Ibunya meminta waktu beberapa hari untuk menyiapkannya. Dan sesuai janji, beberapa hari kemudian Ibunya tersenyum sambil memberikan uang yang yang diperlukan. Maka tahun 1981 Chairul Tanjung tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia.
Minggu awal masuk kuliah, Chairul didaulat menjadi Ketua Angkatan Mahasiswa FKG-UI, atau mendapat julukan Jendral Angkatan”. Bisa jadi karena postur tubuhnya yang tinggi besar, dan tentu karena pengalaman berorganisasi dari SMP dan SMA yang telah dijalankannya.
Berinteraksi dengan para sahabat baru di kampus adalah hal baru yang menyenangkan tentunya. Meski mengaku sering makan di kantin CM ”Cepek Murah” Warung Toyib dengan nasi setengah porsi, sayur, tempe/tahu, semua terasa nikmat dan membuatnya bahagia.
Hingga suatu sore, ibunya, Ibu Halimah yang di kalangan tetangga dekat biasa dipanggil Mpok Limah, asli Cilandak, Sukabumi, Jawa Barat, berkata dengan terus terang kepadanya. Bahwa untuk ongkos kuliah ibunya harus pontang-panting mendapatkan uang. Dengan air mata, ibunya menatap sang anak sambil berucap ”Chairul, uang kuliah pertamamu yang ibu berikan beberapa hari yang lalu ibu dapatkan dari menggadaikan kain halus ibu. Belajarlah dengan serius, Nak.”
Mendengar itu, bumi tempatnya berpijak seolah berhenti berotasi, ia lemas seperti tanpa darah. Bisa dibayangkan, baru menikmati keceriaan bertemu teman-teman baru, tiba-tiba mendengar berita menyedihkan itu. Chairul mengaku terpukul, shock. Bukan untuk putus asa dan menyerah terhadap keadaan, namun sebaliknya. Dari situlah ia bertekad untuk tidak meminta uang lagi kepada orang tuanya. Ia harus bisa memenuhi semua keperluan kuliah dengan usahanya sendiri.
Lima Belas Ribu Pertama dalam Hidup Chairul
Di FKG-UI banyak sekali praktikum, dari membuat gigi palsu menggunakan wax ( lilin), gipsum, dsb. Ada buku praktikum sekitar 20 halaman yang harus diperbanyak ( difotocopy) oleh mahasiswa sebagai pedoman wajib.
Di lingkungan Salemba Raya, bertebaran tukang foto kopi dengan ongkos per lembar Rp. 25,- sehingga diperlukan total Rp. 500,- untuk mendapatkan buku tersebut.
Nah, Chairul mempunyai teman SMP yang orang tuanya memiliki usaha percetakan di Jl. Bango V No. 5, Senen. Namanya Bravo Printing. Usaha percetakan milik Pak Surya itu dijalankan oleh Pak Surya sendiri beserta anak-anaknya Toni, Hardi Surya, Beni ( teman Chairul).
Maka Chairul datang ke percetakan itu meminta tolong pada Hardi Surya ( kakak kelas Chairul di SMP juga ), dan disanggupi dikerjakan dengan harga Rp 150. Dikerjakan dulu, dibayar setelah selesai.
Maka, peluang usaha mulai dilihatnya. Esoknya, Chairul menawarkan jasa cetak diktat dengan harga Rp.300, lebih hemat tentunya dibanding harga pasar yang Rp. 500,-. Singkat cerita, ada 100 orang temannya yang mendaftar mencetak di Chairul, dan otomatis ia mendapatkan keuntungan sebesar Rp. 15.000,-
Sebuah keuntungan yang diperoleh dengan proses sangat mdah, dengan hanya berbekal jaringan dan kepercayaan.
Uang keuntungan usaha yang baru pertama kali diterimanya sebesar 15.000 itu dirasakan Chairul sebagai momentum pembangkit kepercayaan diri selanjutnya.
Puluhan ribu berikutnya, ratusan ribu dan jutaan berikutnya bukan perkara sulit jika semangat dan kepercayaan bisa terus dijaga. Sejak itu hidupnya terasa lebih mudah.
Dari 15.000 itu kemudian ia terkenal ke seantero kampus sebagai pengganda diktat yang murah. Awalnya ia mendapat tempat fotocopy murah di daerah Grogol ( Rp. 15,-/lembar dan karena memberi order banyak didiscount menjadi Rp.12,5/lembar). Dosen dan teman-teman lintas jurusan kerap menitipkan fotocopy padanya. Praktis nyaris tiap hari ia mondar-mandir Grogol-Salemba dengan bajaj mengangkut diktat-diktat yang difotocopy dibantu beberapa orang sahabatnya.
Berikutnya karena merasa lama-lama kerepotan mondar-mandir sementara iapun harus mengikuti jam perkuliahan dan menjalankan berbagai praktikum, ia mengajukan permohonan memanfaatkan ruang kosong di bawah tangga untuk menempatkan mesin foto copy.
Dan berkat hubungan baik dengan hampir semua dosen, karyawan bahkan rektor UI, ijin itu mudah didapatkan.
Lalu Chairul meminta pemilik mesin fotocopy itu membuka counter di bawah tangga di fakultasnya di Salemba. Ia mendapat marketing fee sebesar Rp.2,5,-/lembar. Dan setiap sore, Chairul tinggal datang ke tempat fotocopyan sambil meminta setoran layaknya bos…:)
( Kita semua pasti akan turut tersenyum terhibur membacanya…bangga dan haru…)
Demikianlah naluri bisnisnya kian terasah. Dari mulai usaha fotocopy, merambah ke bisnis alat-alat kesehatan sebagai salah satu kebutuhan pokok mahasiswa kedokteran gigi. Lalu masuk mencoba bisnis di luar kampus meski diakhiri cerita kebangkutan dengan ditutup tokonya.
Namun bangkit lagi dengan usaha jual-beli mobil bekas, bengkel reparasi mobil, kontraktor kecil-kecilan, dst dll.
Tahun 1984, di masa kuliah tahun ke 4 (usia 22 tahun) Chairul telah berhasil membeli mobil Honda Civic warna coklat keluaran tahun 1976 seharga 3,6 juta. Dan tahun 1986 berganti Honda Accord keluaran tahun 1981.
Perolehan itu menunjukkan bahwa ia telah berhasil mewujudkan tekadnya untuk tidak meminta biaya kuliah pada orang tuanya, sekaligus juga telah mulai menuai hasil usahanya dengan kerja keras dan kerja cerdas tersebut. Sebuah prestasi yang membanggakan setiap orang tua tentunya.
Begitulah Chairul….sambil tekun menjalankan usahanya, ia juga paralel dengan aktif di berbagai kegiatan organisasi kampus dan aktifitas sosial. Semua dijalankan secara seimbang dan bersamaan.
Hingga di usia dewasa Chairul terus memperluas jalinan silaturahim ke berbagai kalangan, berani mempelajari aneka bisnis baru dan mencari jalan untuk menjalankan dengan sebaik-baiknya. Gabungan antara kerja keras, menjaga kepercayaan, mengedepankan kejujuran dan etika bisnis, tak pernah berhenti belajar dan disertai dengan doa terbaik tentunya.
Pak Chairul Tanjung, sesosok pengusaha besar nasionalis yang sangat diperhitungkan di negeri ini, termasuk bagi Pak Dahlan Iskan yang saat itu sempat mengirimkan sms menawarkan penjualan saham Garuda sebagaimana yang sempat diceritakan oleh Pak Dis sendiri di Manufacturing Hope beberapa waktu lalu. Beliau mungkin telah menggenggam berbagai cerita kesuksesan hari ini yang adalah hasil jerih payah dan kerja kerasnya yang dimulai sangat dini.
Tempaan hidup berupa kemiskinan, seringkali menjadikan seseorang menjadi tangguh, berkarakter dan berkepribadian.
Lalu, jika sebagian kita yang Alhamdulillah mungkin tak sampai harus mengalami kelaparan sebagaimana Pak Chairul Tanjung, dan Pak Dahlan Iskan di masa kecil……dapatkah kita mempunyai semangat juang yang sama dengan mereka semua?
Sejauh mana usaha dan kerja keras kita hari ini? Dapatkah kita menggembleng anak-anak kita untuk menyadari bahwa tugas di pundak mereka adalah menjadi manusia-manusia bermanfaat di hari depannya kelak?
Pertanyaan-pertanyaan yang tak mudah menjawabnya. Pun adalah pekerjaan yang tidak segampang mengatakannya. Yang pasti…harus terus kita nyalakan api semangatnya….agar setidaknya kita tahu apa yang harus kita lakukan hari ini, esok dan lusa.

Kiat Wirausaha : Memberi Nama Perusahaan

Kiat Wirausaha

Memberi Nama Perusahaan

Ketika Anda dan rekan bisnis sedang merintis perusahaan konsultan teknologi informasi, biasanya ada satu masalah kecil tapi besar yang dihadapi. Mencari nama untuk usaha baru memang gampang-gampang susah. Anda bisa mencari inspirasi tanpa harus menjiplak nama orang lain. Ada pula cara sistematis untuk memberi nama perusahaan yang baik dan mungkin, membawa hoki bagi usaha Anda. 

Menurut Konsultan Bisnis, Rhenald Kasali, cara terbaik mencari nama perusahaan adalah dengan melakukan brainstorming. Tentu saja Anda juga bisa mencari inspirasi dari buku-buku nama. Tapi, menurut saya, kurang efektif. Saat brainstorming, lakukan hal-hal di bawah ini:

1. Tentukan kriteria nama. Misalnya, ingin nama yang mudah diucapkan, tidak mengandung konotasi negatif, mudah diingat, atau tidak terlalu panjang.

2.  Nama adalah gabungan dari idealisme (seperti kaya makmur atau jaya abadi) dan unsur bidang usaha Anda. Namun, jangan menggunakan kata yang pasaran. Coba main dengan kata-kata. Misalnya, Anda senang dengan kata cemerlang. Coba cari padanannya dalam bahasa Arab  atau Latin, yang mungkin terdengar lebih catchy.

3. Untuk konsultan IT, gabungkan dengan kata ‘tek’, ‘tech’, atau ‘biz’ yang memberikan konotasi teknologi. 

Kalau sudah menemukan 2-3 nama yang cocok, Anda memerlukan bantuan notaris untuk mengecek di Kementerian Hukum dan HAM, apakah nama-nama tersebut sudah ada yang memakai atau belum. (f)
 
sumber: femina

Kelola SDM : Ukur Kejujuran Karyawan

Kelola SDM

Ukur Kejujuran Karyawan

Meneruskan usaha orangtua memang lebih mudah dibanding memulai usaha dari nol. Namun permasalahannya bisnis orangtua Anda mengalami kemunduran karena karyawannya yang tidak jujur. Meski tidak jujur namun karyawan tersebut jauh lebih rajin daripada yang lain. 

Persoalan yang dihadapi memang ruwet.  Punya karyawan rajin, tetapi tidak jujur. Sementara, karyawan yang jujur, terlihat bermalas-malasan. Menghadapi dua tipe karyawan itu, dari kacamata saya, sebaiknya mereka dibersihkan saja dari usaha Anda.  Beri mereka pesangon, dan Anda mulai dengan merekrut pegawai yang jujur dan mau belajar.  

Pertanyaannya, mengapa bisa terjadi karyawan rajin, tapi tidak jujur? Menurut saya, selain karena  mentalitas dirinya, biasanya karyawan ini terlalu dipercaya dan tak ada sanksi yang diberikan atas ketidakjujurannya. Ingatlah, masalah kejujuran bukan hanya ada pada karyawan tersebut, bisa jadi juga ada pada Anda. Periksa kembali, lakukan introspeksi diri mengapa ketidakjujuran terjadi dalam bisnis Anda: Apakah karena basisnya karyawan itu memang tidak jujur atau ikut-ikutan?  Lalu, apakah penghasilannya sudah mencukupi? Apakah ada control system untuk mengawasi kinerja mereka? Jadi, jangan bertindak, jika belum yakin Anda benar.
 
sumber: femina

Kisah Sukses : Maretta Astri Nirmanda

Kisah Sukses

Maretta Astri Nirmanda


Berbekal juara runner up kontes Rencana Bisnis Kreatif yang diselenggarakan Kementerian Perdagangan pada tahun 2010, Maretta Astri Nirmanda (26) bersama dua sahabatnya percaya diri mengembangkan bisnis mereka. Tak sampai 2 tahun, ia membuktikan bisnisnya mampu berkembang pesat dengan masa depan menjanjikan.

Segmen Anak Muda
Meski orang tuanya bekerja kantoran, darah bisnis ternyata mengalir deras dalam diri Retta, panggilan akrabnya. Di usia yang relatif muda, ia mantap memilih wirausaha sebagai jalur hidupnya.
Sejak kuliah di Jurusan Kriya Tekstil Institut Teknologi Bandung (ITB), Retta mengaku berkeinginan besar menjalankan bisnis bersama sahabatnya, Ivan Kurniawan (26). “Namun, saat itu, hanya sebatas ide tanpa ada tindak lanjut. Selepas kuliah pun kami langsung kerja kantoran di Jakarta,” ujar wanita kelahiran 22 Maret 1986 ini.

Ide bisnis kembali muncul saat Ivan mengontaknya pada Juli 2010, untuk ikut lomba Kontes Rencana Bisnis Kreatif 2010 yang diselenggarakan Kementerian Perdagangan. Waktu itu, Retta langsung mengiyakan, dengan ide bisnis di bidang kuliner. Namun, karena kuliner belum masuk subsektor industri kreatif, ia pun harus mengganti idenya.
Retta teringat pada ide Gilang M. Iqbal (27), teman kuliahnya, yang membuat tugas akhir tentang batik on denim. “Ide ini menarik. Saat itu batik lagi booming dan batik di atas denim yang sifatnya komersial belum ada,” ujarnya. Bertiga, mereka maju  mempresentasikan business plan tentang ‘batik on denim’ tersebut.

“Segmen kami, mereka yang berusia 18 tahun ke atas. Kami pilih denim karena bahan itu sangat identik dengan anak muda. Bisa dipakai setiap hari,” jelas Retta.
Tak disangka, business plan mereka keluar sebagai juara runner up. Atas kemenangan tersebut, mereka berhak memperoleh hadiah sebesar Rp10 juta. “Lalu, kami putuskan hadiah ini menjadi modal usaha,” ujar Retta.

Sebagai langkah awal memulai bisnis, mereka melakukan riset ulang, menghitung kembali biaya produksi sekaligus mempelajari teknik membuat batik di atas denim. “Butuh waktu 3 bulan untuk persiapan. Ternyata membatik di atas denim lebih sulit daripada di atas katun,” ungkap wanita yang pernah bekerja sebagai desainer grafis ini. Tak patah semangat, Retta akhirnya berhasil memproduksi beberapa pakaian. 

Memilih Resign untuk Bisnis
Saat barang sudah siap produksi, Retta mulai memikirkan rencana pemasaran. Karena targetnya anak muda, Retta memilih bazar di kampus sebagai langkah awal memperkenalkan produknya. “Tapi sayang, hanya terjual dua potong,” ujar Retta, yang mengaku sempat down

Semangatnya untuk berbisnis kembali muncul, ketika bulan November 2010 Retta dan timnya mendapat mentoring bisnis dari Kementerian Perdagangan. “Kami mendapat  arahan dari orang-orang yang sudah sukses di berbagai bidang, seperti Betty Alisjahbana, Rene Suhardono, dan Iim Fahima,” jelasnya.

Berbekal pengalaman tersebut, Retta dan timnya segera berbenah. Mereka serius membuat katalog produk dengan clothing line bernama Lazuli Sarae. “Lazuli diambil dari kata lazhward, bahasa Persia, yang artinya biru. Sementara sarae dalam bahasa Sunda yang berarti bagus. Jika digabungkan, nama ini terdengar seperti brand luar negeri, dengan tujuan produk kami goes global,” jelas Retta.

Tak hanya itu, Retta memutuskan untuk mendaftarkan bisnisnya sebagai badan usaha. “Meski menelan biaya belasan juta dari modal kami, dengan dikukuhkan sebagai badan usaha, akan mempermudah transaksi dan memperluas kesempatan bisnis,” ungkap Retta. Bulan Maret 2011, lahirlah CV Sarae.

Berangkat dari sini, Retta mulai fokus. Ia tidak mau setengah-setengah membesarkan bisnisnya. Ia dan Ivan pun sepakat berhenti dari pekerjaan masing-masing. Sayangnya, semangat Retta harus tertahan sementara karena ia terikat proyek dengan kantor lamanya. “Masa-masa itu, pikiran, waktu, dan tenaga saya benar-benar habis terkuras. Saya bekerja dan menjalankan bisnis bersamaan. Bolak-balik Jakarta-Bandung tiap minggu,” ujarnya.

Keputusan resign ini berat bagi Retta karena ia harus meyakinkan kedua orang tuanya dan menepis hal negatif yang dilontarkan teman-temannya. “Banyak yang bilang, membangun usaha tidak gampang. Namun, tekad saya sudah bulat untuk serius membesarkan usaha sendiri,” ungkapnya.

Setelah benar-benar total menjalankan bisnisnya, April 2011, Lazuli Sarae mendapat undangan dari Departemen Perdagangan untuk menjadi peserta di pameran Inacraft 2011. “Pameran ini memberi dampak sangat besar. Saya belajar banyak, terutama membaca keinginan pasar,” ujarnya.
Menurutnya, Inacraft membuka gerbang bisnisnya. “Produk kami  makin dikenal banyak orang. Dalam lima hari, omzet kami lebih dari 20 juta! Ini fantastis,” ungkap Retta.

Targetkan Ekspor ke Eropa
Perlahan namun pasti, brand Lazuli Sarae mulai dikenal banyak orang. Gencarnya promosi melalui website toko online (Multiply, Rakuten) dan media sosial (Facebook, Twitter, Yahoo Messenger), membuat nama brand ini populer di internet. “Internet sangat efektif karena sasaran kami anak muda yang setiap hari menggunakan internet,” ungkap wanita peraih Shell Start-up Award 2011 ini.

Melejitnya nama Lazuli Sarae tidak hanya mendatangkan keuntungan. Tak jarang kritik pedas menghadang, saat beberapa orang menilai produk batiknya akan merusak budaya. Tapi, Retta tidak gentar. “Saya percaya pelestarian batik motif asli akan selalu ada. Apa yang saya kerjakan adalah pengejawantahan dari sudut pandang anak muda saat ini tentang batik. Desain batik saya buat sendiri, tidak mengambil dari motif yang sudah ada,” jelasnya. 

Buktinya, konsumen muda tetap melirik model batik Lazuli Sarae yang dipasang  dengan harga mulai Rp300.000 hingga Rp800.000. Dalam kondisi normal tanpa pameran atau pesanan khusus saja, omzet bisnisnya mencapai Rp15 juta per bulan.

Di usia yang relatif muda, memiliki ide unik kreasi batik yang dilukis khusus di atas bahan jeans serta kejeliannya memanfaatkan semua material yang ada sebagai sarana promosi yang tepat, telah membuat kagum juri Lomba Wanita Wirausaha Femina 2012. Pantaslah, jika kemudian ia dinobatkan sebagai The Most Potential Entrepreneur. “Desainnya sangat bagus dan sesuai dengan anak muda,” ungkap Anne Avantie, salah satu juri lomba.
“Ini semua di luar ekspektasi saya. Masuk ke dalam 25 finalis saja, saya sudah sangat bersyukur. Saya tak menyangka meraih juara kategori khusus,” ujar wanita berkacamata minus ini.

Kepak sayap Lazuli Sarae terus melebar. Produk fashion-nya mulai diterima di berbagai department store, seperti Alun  Alun, Pendopo, dan Sarinah. Retta juga sangat berharap ada tambahan modal investasi untuk menggerakkan perputaran roda bisnisnya. Apalagi kini  ia tengah mengincar pasar Eropa untuk mengekspor produknya. “Sedang dalam proses survei pasar, kebetulan kami ada teman yang akan memasarkan produk kami di sana,”  ujar penggemar desainer Musa ini.
Dalam waktu dekat, Retta berencana juga membawa produknya ke regional Asia. “Saya akan membawa Lazuli Sarae ke Hong Kong Fashion Week 2013. Doakan kami bisa menembus pasar Asia,” ujarnya, optimistis.

Kisah Sukses: Welmince Lulu Ratu

Kisah Sukses

Welmince Lulu Ratu


Bertumpuk-tumpuk kain tenun ikat warna-warni tampak menghiasi salah satu stan di acara Festival Wanita Wirausaha yang digelar Juli lalu. Pemiliknya, seorang wanita bertubuh sedang dan berambut ikal, seharian tak berhenti melayani pelanggan. Ia adalah Welmince Lulu Ratu (37), pemilik Tenun Ikat NTT Jula Huba, pemenang kategori khusus Pemanfaatan Potensi Lokal Lomba Wanita Wirausaha 2012.

Mulai dari Nol
Meski selama 3 hari acara digelar, ia tak dibantu seorang staf pun. Senyum tak pernah hilang dari wajah wanita yang akrab dipanggil Mince ini. Terlihat rak yang tadinya penuh dengan kain kini sudah nyaris kosong. Sembari beristirahat, ia bertutur kepada femina bahwa berjualan kain tidak bisa sembarangan. Apalagi kain tenun ikat yang memiliki banyak filosofi dan cerita di balik setiap motifnya. Tak mengherankan, mencari karyawan yang memiliki pengetahuan dasar tentang kain pun menjadi tak mudah.     “Soalnya hanya saya yang tahu dan mengerti kain-kain ini. Padahal, pencinta kain biasanya ingin mendengar tentang asal atau arti di balik motifnya sebelum membeli. Cerita-cerita ini membuat mereka jadi lebih menghargai dan maklum kalau kain tenun ikat harganya relatif mahal,” ungkapnya.
    Tak hanya tentang kain, Mince yang lahir di Pulau Sabu, Nusa Tenggara Timur, juga punya kisah manis getir tentang perjuangannya menuju sukses sebagai pengusaha. Sejak kecil ia sudah menjadi penenun karena harus membiayai sendiri sekolahnya. Wafatnya kedua orang tua ketika ia masih SD, membuat ia dipisahkan dari ketiga saudara kandungnya yang dititipkan di keluarga orang tuanya.
    Selama menjadi buruh tenun, dengan rajin Mince menabung sebagian dari upah yang didapatnya. Pada tahun 2003, ia berhasil mengumpulkan Rp300.000 untuk modal awal menjadi penenun mandiri. “Dengan uang itu saya pindah ke rumah kos yang sangat sederhana di sebuah kompleks penenun di Kupang. Di sana saya dan tetangga-tetangga bahu-membahu saling meminjamkan benang, beras, dan apa saja,” ujarnya.
Di lingkungan ini, Mince dan kawan-kawannya menenun dengan alat gedokan yang digerakkan dengan tangan. Dibandingkan alat tenun bukan mesin (ATBM) yang sedikit lebih modern, kain tenun gedokan relatif lebih tebal.
    Mince dan teman-temannya menjual kain hasil tenunan mereka ke toko-toko. Sering kali para pedagang menawar murah tanpa belas kasihan. Ada satu kejadian yang masih membekas dalam ingatannya. Seorang pemilik toko menolak membeli kain Mince karena sudah memiliki  terlalu banyak kain. Ketika Mince beranjak keluar, pemilik toko itu menawar kain Mince seharga Rp50.000.
“Pikiran saya berkecamuk, antara menerima atau menolak tawarannya. Saya bilang, ‘Kalau Bapak yang menenun kain ini sendiri, pasti tahu harga itu tidak pantas.’ Saya lalu keluar. Toko yang berikutnya membeli kain saya seharga Rp80.000. Sejak itu, saya bertekad tak mau lagi mengemis dari toko ke toko seperti itu. Saya harus berbuat sesuatu untuk maju,” tutur Mince, dengan mata berkaca-kaca.
Sejak kejadian itu, Mince lebih sering berjualan kain di kantor-kantor pemerintahan. Di sana, ia bisa menjual kainnya dengan harga jauh lebih tinggi. Pelanggan Mince cukup banyak, terutama setelah adanya perda yang mengharuskan semua PNS  memakai pakaian berbahan tenun sekali seminggu. “Karena sudah kenal baik dengan banyak orang,  tiap kali ada pameran, saya diajak ikut. Sedikit demi sedikit, saya belajar cara berbisnis,” ungkap ibu dari satu putri ini.

Langganan Bu Ani
Seiring berjalannya waktu, jadwal Mince pameran mulai padat, sampai ia tak sempat lagi menenun sendiri. Semua pesanan ia teruskan kepada teman-teman penenunnya. “Karena saya juga penenun, mereka lebih memercayai saya daripada pemilik toko atau pedagang kain lainnya. Kain-kain mereka saya beli putus dengan harga yang layak,” ujar Mince, yang di rumahnya selalu kebanjiran berkarung-karung kain tenun yang datang dari segala penjuru NTT: Pulau Sabu, Rote, Ende, Maumere, dan masih banyak lagi. Karena itulah, ia banyak mengenal aneka motif dan pola kain tenun sesuai daerah asal masing-masing.
    Tak puas hanya berjualan kain saja, Mince lalu berinisiatif untuk memberdayakan para wanita di daerahnya. Kebanyakan dari mereka, seperti Mince, putus sekolah. “Ada anggapan di kampung bahwa mereka yang bersekolah pasti tak mau menenun. Sedangkan mereka yang menenun, juga berpikir, buat apa sekolah?” ujarnya, menyayangkan. Lalu, Mince pun memberi bahan dan melatih mereka sampai bisa menghasilkan kain yang bagus. Saat sudah punya modal, mereka dilepas supaya mandiri.
    Sebagai mentor sekaligus teman baik, ia berusaha untuk mengunjungi rumah mereka sebulan 2 kali untuk mengecek proses pengerjaan kain-kain itu. “Yang membedakan saya dari pembeli kain lain? Saya selalu siap sedia, jika mereka membutuhkan sesuatu.  Mau telepon tengah malam pun, saya pasti datang,” ujarnya, mantap. Kini, terhitung ada sekitar 62 wanita yang berada di bawah naungannya.   
Mince membuka toko pertamanya di Kupang tahun 2008. Menurutnya, membeli kain tenun di NTT, terutama bagi pendatang atau turis, tidak semudah yang dibayangkan. “Kain tenun ikat pada dasarnya digunakan untuk acara-acara adat,  bukan untuk dijual. Kain-kain ini dikerjakan di rumah-rumah di desa. Kain yang dianggap sakral, mau ditawar berapa pun, tidak akan dijual,” ujarnya.
Kini toko Mince menjadi tujuan utama para pencinta tenun yang berkunjung ke Kupang. Melihat antusiasme pasar terhadap kain tenun NTT, Mince punya misi baru, yaitu meningkatkan pengetahuan masyarakat lokal bahwa tenun tidak hanya digunakan untuk upacara adat, tapi sudah menjadi fashion kebanggaan Indonesia. Bagaimana tidak, sekarang langganan tetap Mince adalah desainer-desainer ternama, seperti Ida Royani, Stephanus Hamy, dan Oscar Lawalata. “Ibu Ani Yudhoyono juga mengoleksi kain dan sering beli dari saya,” ungkapnya, bangga.
Ketika melihat kain tenun Jula Huba ‘disulap’ para desainer itu menjadi aneka rupa high fashion, Mince mengaku terkaget-kaget. “Saya tidak pernah membayangkan tenun NTT akan dipakai di luar pulau. Berkat desainer-desainer itu, tenun NTT jadi populer dan trendi di kalangan anak muda Jakarta,” ujarnya, terharu. Melihat besarnya permintaan kain tenun yang datang dari Jakarta, tahun lalu Mince membuka 2 toko di pusat perbelanjaan Thamrin City. Sejak itu, keseharian Mince dihabiskan antara Jakarta dan Kupang.
Dengan harga kain tenun mulai dari ratusan ribu sampai belasan juta rupiah per lembarnya, omzet Jula Huba mencapai puluhan juta per bulannya. Keberhasilannya keluar dari kondisi ekonomi yang dulu, memberi Mince perspektif hidup baru. “Ternyata, segala ketakutan saya terhadap kegagalan tidak ada yang terbukti. Ini membuat saya  makin berani melangkah dan mengambil risiko. Masih banyak mimpi yang ingin saya capai,” ujarnya.
Salah satu mimpinya adalah membuat buku tentang kain tenun NTT. Selama ini ia selalu membeli semua buku tentang tenun Indonesia yang ia temukan. Mince mengaku kecewa campur gemas, karena banyak buku yang memuat keterangan motif dan asal kain NTT yang salah.
Menurut Mince, hal ini terjadi karena beberapa hal. Pertama, tidak ada instansi yang bisa mengklarifikasi data-data itu. “Jangankan orang luar, orang NTT sendiri pun belum tentu tahu semua jenis motif dari berbagai pulau di NTT,” katanya. Kedua, sering kali kain tenun dijual asal-asalan. Banyak penjual kain yang tidak tahu-menahu latar belakang motif-motif kain yang dijualnya. Jadi, mereka mengarang saja ceritanya. “Keinginan saya sederhana saja. Saya ingin kain tenun NTT dikenal dan diapresiasi dengan baik dan benar oleh orang banyak,” tutupnya.