Tampilkan postingan dengan label Tips Pengelolaan Keuangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tips Pengelolaan Keuangan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Januari 2013

Pro dan Kontra Redenominasi Rupiah

Jakarta - Kok dibilang "lagi"? Karena sebenarnya ini isue yang sudah pernah dibicarakan diawal tahun 2011 tapi kembali menjadi pembicaraan dalam satu minggu terakhir. Jadi sebenarnya suka atau tidak suka, mau atau tidak mau , perlahan tapi pasti ternyata Pemerintah tetap meneruskan rencana untuk melakukan Redenominasi pada mata uang Rupiah kita tercinta ini. Hal ini terbukti dengan disetujuinya rancangan Redenominasi oleh pemerintah pada pertengahan Maret 2011 kemarin. Sekarang tinggal menunggu apakah usulan tersebut akan mendapatkan persetujuan oleh DPR untuk dilaksanakan.

Secara konsep Redenominasi adalah proses dimana suatu pemerintahan, dalam hal ini Indonesia membuang 000 alias tiga nol dibelakang mata uang rupiah kita dengan tujuan untuk menyederhanakan penulisan, pencatatan, transaksi dan penyebutan kedepannya, akan tetapi tidak mengurangi nilai dari transaksi tersebut. Sehingga apabila kita sekarang mempunyai uang Rp. 1,000,000,- (satu juta rupiah), maka setelah Redenominasi uang kita akan menjadi "hanya" Rp. 1,000,- (seribu rupiah) mata uang baru. Nilai seribu rupiah baru ini akan bisa dipakai untuk membeli barang (transaksi) yang nilainya setara dengan satu juta saat ini.

Lho? Kalau sedemikian simpel lalu kenapa banyak orang membicarakannya? Serta ada beberapa kelompok orang yang malah menentangnya? Hal ini tidak terlepas dari trauma masa lalu dimana pernah suatu ketika ada kejadian pemotongan nilai uang (Sanering) pada tahun 1959-1966. Kondisi hyper-inflasi saat itu yang menyebabkan pemerintah mengambil tindakan Sanering dimana nilai uang dari Rp. 500 dipotong menjadi Rp. 50 dan uang Rp. 1,000 dipotong menjadi Rp. 100,-.

Meskipun berbeda jenis, banyak anggota masyarakat yang nantinya tetap tidak dapat membedakan antara keduanya. Hal ini ditakutkan bisa menyebabkan kepanikan. Meskipun dalam prakteknya di beberapa negara lain yang telah melakukan Redenominasi sempat terjadi hyper-inflasi dalam beberapa tahun pertama diterapkan kebijakan ini. Hyper-inflasi ini sendiri sering terjadi karena banyak hal. Salah satu yang terpentik adalah efek psychologi kepanikan dari masyarakat yang "tidak percaya" memegang mata uangnya sehingga membelanjakan / membelikan aset. Alhasil hukum supply demand terjadi dan harga-harga barang bisa naik. Penyebab lainnya bisa terjadi karena ulah pengusaha / pedagang yang mungkin "nakal" yang ikut-ikutan menaikan harga jual barang/jasa mereka karena beranggapan harga mereka terlalu rendah. Terakhir kenaikan barang yang menyebabkan hyper-inflasi bisa saja terjadi karena adanya pembulatan harga keatas apabila tidak terdapat pecahan kecil untuk mata uang baru.

Oleh sebab itu akan dibutuhkan kerjasama dari berbagai pihak agar tidak ada pihak-pihak yang mencuri kesempatan "menaikan harga" jual dagangan mereka karena tiba-tiba harganya "terkesan" murah. Contoh kita makan steak “pinggir jalan” seharga Rp. 75,000 sampai dengan Rp. 100,000,- dengan adanya redenominasi mendadak harganya jadi "cuma" Rp. 75 dan terkesan mudah, maka steaknya dinaikin jadi Rp. 150,-. Lha steak yang sama ini langsung naik jadi 100% dari harga lamanya. Masih bagus kalau cuma naik 100%, kali aja dinaik dari Rp. 75 ke Rp. 750 bisa aja kan? Ini yang kemudian menjadikan hyper-inflasi.

Hyper-inflasi ini kemudian akan turun dan mereda beberapa tahun kemudian. Hal ini akan sangat dipengaruhi oleh kesiapan pemerintah dalam melakukan sosialisasi tentang Redenominasi ini serta melakukan operasi pasar untuk mencegah pengusaha dan pedagang nakal yang menaikan harga jual barang mereka. Atau kalau ini tidak dilakukan dengan hati-hati bisa berdampak kepanikan di masyarakat yang menganggap ini pemotongan uang lagi. Sehingga akibatnya orang akan memborong mata uang lain dan emas (LM) plus hyperinflasi akan semakin parah. Banyak negara-negara khususnya negara berkembang yang telah melakukan redenominasi ini. Sedangkan negara terakhir yang berhasil melakukan Redenominasi yaitu Turki dengan Lira nya. Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir mereka Redenominasi mata uang mereka dan cukup sukses dan berhasil.

Kembali ke niatan awal Pemerintah untuk me-redenominasi-kan rupiah. Untuk jangka panjang hal ini memang akan sangat berguna dan bermanfaat bagi rakyat dan martabat negara Kesatuan Republik Indonesia dan mata uang kita. Akan tetapi sekali lagi proses pelaksanaannya harus dilakukan dan dijaga dengan ketat. Serta proses sosialisasi yang harus dilakukan dalam jangka panjang agar tidak ada pihak-pihak yang mencari keuntungan dalam kondisi ini. Sehingga yang tadinya redenominasi salah satunya diniatkan untuk menekan inflasi malah justru menyebabkan hyper-inflasi berkepanjangan

sumber: detik finance

Melihat Prospek Tahun 2012

Saya bukan (alm.) Mama Loren dan bukan juga PapaLoreng. Tapi seperti banyak orang dan analis yang membuat analisa, tidak ada salahnya kita liat-liat apa yang kira-kira akan terjadi di 2012. Meskipun banyak orang masih optimis untuk tahun 2012 ini, akan tetapi melambatnya pertumbuhan ekonomi dibanyak negara tidak bisa dihindari. Eropa sudah pasti akan drop cukup besar. Asian Development Bank (ADB) me-revisi pertumbuhan ekonomi di Zona Eropa dari 1,3% turun menjadi hanya 0,5%. Sementara Amerika turun hanya sedikit dan Jepang juga turun 0,3% dari 2,8% menjadi 2,5%.

Asian Development Bank juga me-revisi prediksi pertumbuhan ekonomi di hampir seluruh negara-negara di Asia. Untuk total pertumbuhan ekonomi di negara-negara ASEAN sendiri juga turun dari prediksi sebelumnya sebesar 5,6% menjadi 5,3%. Demikian juga dengan di Indonesia yang melambat dari prediksi sebelumnya di 6,8% menjadi 6,5%. Seperti yang sudah disebutkan diatas, maka dapat disimpulkan disini bahwa tahun 2012 pertumbuhan ekonomi dunia akan melambat sampai adanya kepastian jalan keluar bagi negara-negara di zona Eropa dan juga pertumbuhan di Amerika Serikat.

Di Indonesia sendiri, banyak harapan yang diungkapkan oleh masyarakat Indonesia di tahun 2012 nanti. Di bidang politik umumnya berharap akan adanya stabilitas politik yang kondusif dan pentingnya kedewasaan dalam berpolitik. Di bidang hukum mayoritas berharap agar hukum bisa ditegakkan dengan benar dan tidak ada lagi tebang pilih dalam penegakannya, apalagi dengan terpilihnya ketua KPK baru-baru ini. Di bidang ekonomi semua masyarakat tentunya berharap akan tercapainya kesejahteraan yang lebih baik, harga-harga yang tidak terinflasi dan terbukanya lapangan pekerjaan.

Kondisi Indonesia saat ini masih relatif baik karena banyak hal menunjukan indikasi yang positif. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang relatif stabil di tahun 2011 ini memberikan harapan untuk mencapai pertumbuhan yang kurang lebih sama di tahun 2012 nanti. Suka tidak suka, kita harus acungi jempol kepada Pemerintah dan Bank Indonesia yang bisa meng kontrol tingkat inflasi dimana relatif terkendali dan BI rate yang kondusif untuk pertumbuhan ekonomi. Hal ini sedikit banyaknya juga dipengaruhi oleh jumlah Cadangan devisa Indonesia yang masih relatif solid. Sehingga BI mempunyai 2 senjata untuk mengkontrol inflasi dan moneter yaitu suku bunga dan nilai tukar.

Selain itu, Rasio debt to GDP Indonesia yang relatif rendah membuat Posisi credit rating Indonesia sangat baik untuk investment grade. Hal inilah yang membuat Outlook perekonomian Indonesia relatif baik ditahun 2011 ini. Diluar kondisi Eropa, Valuasi dan prospek IHSG yang relatif menarik membuat Potensi aliran dana investasi asing pada saham di BEI. Dan tidak hanya di bursa efek, aliran dana ke sektor real juga naik dengan Pertumbuhan foreign direct investment (FDI).
Beberapa hal yang harus diwaspadai di 2012 antara lain adalah potensi menurunnya ekspor atau nilai ekspor karena melemahnya pasar di Eropa dan Amerika. Kondisi yang masih dibayang-bayangi ketidak stabilan bisa ikut mempengaruhi Indonesia. Berikutnya adalah isu yang sudah ada sejak tahun 2010-2011 yaitu Kenaikan Tarif Dasar Listrik atau TDL. Apakah akan dinaikan atau tidak? Kita lihat nanti, yang pasti pemerintahan sekarang sangat menjaga untuk tidak membuat kebijakan yang tidak disukai publik.

Hal yang sama juga terjadi di Kenaikan BBM ber-subsidi. Sudah banyak ahli-ahli perminyakan yang melakukan perhitungan tentang BBM ber-subsidi dan mendesaknya kenaikan harga BBM tersebut berbanding dengan neraca negara kita. Lagi-lagi kebijakan ini tidak pro-publik dan akan mendapat kecaman. Apakah pemerintah akan menaikannya tahun 2012 atau mundur dan menunda kembali seperti terjadi ditahun 2011 ini?

Terakhir yang sempat ramai adalah rencana pengesahan redenominasi dan dimulainya sosialisasi.Sama seperti kenaikan harga BBM, TDL, kebijakan ini juga tidak pro-publik. Kalaupun akan dijalankan kemungkinan bisa ditunda atau eksekusi baru mulai dijalankan ditahun 2013 atau 2014.

sumber: detik finance

7 Alasan Mengapa Kita Butuh Perencanaan Keuangan

Foto: Lisa Soemarto Jakarta - Pada20-30 tahun lalu, masa-masa orang tua kita masih membiayai hidup kita, belum ada yang namanya profesi Financial Planner atau Perencana Keuangan di Indonesia. Tapi 10 tahun belakangan ini profesi ini sudah banyak bermunculan di Indonesia. Dengan berkembangnya gaya hidup yang semakin konsumtif, naiknya inflasi yang membuat kebutuhan hidup dimasa yang akan datang semkin mahal, banyaknya produk-produk investasi yang ditawarkan, dan semakin sadarnya masyarakat akan kesejahteraan hidupnya.

Beberapa alasan mengapa kita membutuhkan sebuah Perencanaan Keuangan :

1. Untuk melindungi diri kita dan keluarga dari risiko keuangan

Dalam siklus hidup tentunya ada masa-masa naik dan turunnya tingkat kehidupan , dan tidak dapat dipungkiri, dimanapun situasi kehidupan kita, pastinya berhubungan dengan uang. Naik turunnya situasi keuangan masih dapat diatasi dengan bantuan seorang profesional. Apa saja masalah-masalah penting dan darurat yang berhubungan dengan keuangan, contohnya adalah : kehilangan pekerjaan, sakit keras, kecelakaan yang menyebabkan cacat, dan kematian kepala keluarga sebagai sumber pendapatan.

2. Untuk melunasi utang

Memang sangat baik jika kita sudah memiliki investasi, baik investasi pada pasar modal, properti, bisnis maupun barang-barang berharga. Namun masih banyak diantara kita yang juga memiliki hutang yang besar, terutama hutang konsumtif. Hal ini sebenarnya sangat penting untuk dicari jalan keluarnya. Sangatlah tidak tepat jika setiap bulan berinvestasi dengan tujuan untuk mengumpulkan aset namun juga menumpuk hutang yang bunganya lebih tinggi dari hasil investasi kita.
Oleh karena itu, menyelesaikan hutang adalah hal yang paling penting didalam sebuah Perencanaan Keuangan yang kita miliki.

3. Untuk biaya membesarkan anak-anak

Setiap orang tua tentunya ingin memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Oleh karena itu porsi yang cukup besar didalam anggaran rumah tangga adalah biaya untuk membesarkan anak-anak yang dapat berlangsung sekitar 20-25 tahun sebelum anak-anak kita dapat membiayai dirinya sendiri. Biaya ini meliputi sejak anak lahir, hingga biaya pernikahan, namun biaya yang paling besar adalah biaya pendidikan sejak memasuki persiapan sekolah (pre-school) hingga perguruan tinggi. Sebagai ilustrasi, jika biaya kuliah saat ini adalah Rp 50 juta, dengan adanya inflasi maka, dalam 15 tahun biaya tersebut menjadi sekitar Rp 770 juta.

4. Untuk pembelian aset, dari kendaraan hingga rumah

Rumah adalah aset utama yang harus dimiliki oleh seseorang, selain untuk digunakan sebagai tempat tinggal, rumah juga mnjadi sebuat aset yang nilainya bertambah dari waktu kewaktu. Aset kedua yang harus dimiliki adalah kendaraan. Umur kendaraan yang nyaman adalah 5 tahun. Jadi layaknya, setiap 5 tahun kita perlu mengganti kendaraan kita.

Namun tidak semua orang, walaupun sudah memiliki pekerjaan, mampu untuk membeli rumah dan kendaraan karena gaji yang hanya cukup untuk membiayai kehidupan sehari hari sehingga dari tahun ke tahun uang tidak pernah cukup untuk membeli aset.Oleh karena itu diperlukan suatu solusi agar keinginan untuk membeli aset aset dapat tercapai.

5. Untuk membiayai pembelian polis asuransi

Semua aset yang sudah kita kumpulkan adalah untuk memenuhi segala kebutuhan kehidupan keluarga, namun bayangkan jika suatu saat terjadi kecelakaan, sakit atau meninggal, sehingga tidak dapat lagi kita membiayai keluarga kita.Untuk melindungi nilai ekonomis seseorang yang menjadi sumber pendapatan keluarga adalah dengan asuransi. Pertanyaan berikutnya adalah apakah asuransi yang kita miliki nilainya sudah cukup untuk membiayai kehidupan hingga masa depan keluarga yang ditinggalkan dapat terjamin. Berapa sebenarnya nilai asuransi yang harus dimiliki? Apa saja benefit dari asuransi kesehatan yang kita miliki?

6. Untuk bisa menikmati pensiun dengan taraf hidup yang nyaman

Pensiun adalah saatnya kita menikmati masa istirahat dari pekerjaan. Tentunya kita ingin menikmati dengan taraf hidup yang nyaman. Namun dari mana kita bisa mendapatkan uang yang cukup untuk membiayai pensiun seperti yang kita inginkan?. Sudah bukan saatnya pada saat pensiun, justru kita masih harus mencari pekerjaan untuk membiayai hidup kita. Bukan hal yang tepat juga jika kita harus bergantung biaya ke anak-anak kita yang mungkin masih memerlukan biaya-biaya untuk kehidupannya sendiri bahkan untuk keluarganya.Sebagai ilustrasi, jika saat ini umur kita 45 tahun dengan biaya hidup kita adalah Rp 15 juta, maka pada saat kita pensiun diumur 55 tahun maka kita membutuhkan dana sekitar Rp 16 Milyar untuk dapat menikmati pensiun selama 20 tahun.

7. Untuk mewariskan kekayaan kita kepada anak-anak

Jika kita sudah memiliki Perencanaan Keuangan maka segala aset dan kekayaan kita sudah tertata untuk setiap tujuan. Pada akhirnya, jika kita berumur panjang dan memasuki usia pensiun, segala kekayaan yang kita miliki dapat kita wariskan kepada anak-anak. Oleh karena itu menyiapkan wasiat juga menjadi bagian dari sebuah Perencaan, agar generasi berikutnya dapat menikmati dan memelihara kekayaan yang kita wariskan.

Kapan saat yang tepat untuk memulai Perencanaan? Semakin dini memulai sebuah Perencanaan, akan semakin baik, terutama pada saat usia masih produktif. Dengan demikian kondisi keuangan akan menjadi lebih baik dengan jangka waktu investasi yang panjang untuk mendapatkan hasil yang maksimal. 

 

sumber: detik finance

Lindungi Keluarga Anda dari 3 Hal Ini

Jika ditanya apakah kita ingin melindungi keluarga kita, saya yakin kita akan menjawab 'Ya'. Jika ditanya apakah yang akan kita lakukan untuk melindungi keluarga kita? Maka kita akan menjawab apa yang terbaik yang kita bisa. Bukan begitu?

Sebagai sumber income keluarga kita bekerja untuk menghasilkan income/penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup, untuk kebutuhan pokok, kebutuhan sekolah anak, dan kebutuhan-kebutuhan lainnya, namun pertanyaannya bagaimana jika income/penghasilan itu terhenti?

Ada beberapa hal utama yang kita perlu tahu bisa menyebabkan income/penghasilan terhenti, bukan agar kita khawatir tapi sebaliknya kita menjadi aware terhadap hal ini dan mempersiapkan diri dengan lebih baik :

PHK. Perusahaan tempat kita bekerja memiliki hak untuk memberhentikan kita. PHK bisa terjadi pada siapa saja, bahkan orang-orang terbaik di satu perusahaan karena banyak hal yang memicu perusahaan akhirnya mengambil keputusak untuk melakukan PHK. Untuk prosedur seharusnya perusahaan memberikan notifikasi minimal sebulan sebelumnya sebelum hari dimana karyawan diminta berhenti. Namun dalam banyak kasus masih banyak perusahaan yang tidak menerapkan aturan ini.

Sakit. Salah satu hal yang kita jaga adalah kesehatan, namun ada saatnya tubuh kita drop / daya tahan tubuh menurun sehingga jatuh sakit entah karena keletihan bekerja, ada masalah/beban pikiran, atau akumulasi dari pola hidup yang tidak sehat. Demam berdarah, tipes, diare, maag, adalah sejumlah penyakit yang sering dialami dan bisa menyebabkan seseorang perlu dirawat atau memerlukan bed rest/istirahat dalam beberapa hari bahkan untuk beberapa kasus bisa sampai beberapa minggu.

Kematian. Semua orang akan meninggal dunia hal ini adalah fakta yang tidak bisa diubah oleh siapapun, sekaya apapun orang tersebut, sebesar apapun kekuasaan yang dimilikinya. Kematian adalah hal yang paling berat dirasakan karena bukan hanya income/penghasilan yang terpengaruh namun kita juga kehilangan sosok orang yang kita kasihi.

Sebagian besar orang yang sudah menyadari hal ini akan melakukan sejumlah persiapan, namun ada juga yang sudah mengetahui namun merasa tidak perlu melakukan apa-apa. Semua pilihan kembali ke tangan kita masing-masing. Berikut adalah beberapa solusi yang bisa dilakukan:

PHK. Untuk kejadian PHK kita sebagai karwayan, bisa menyiapkan diri dengan selalu meningkatkan skill/keahlian kita sehingga jika hal ini terjadi kita bisa tetap yakin dengan nilai jual/value kita di perusahaan lain dimana kita bisa segera mencari pengganti. Terkait keuangan hal ini bisa diantisiapasi dengan memiliki Dana Darurat yang jumlahnya akan semakin besar dengan semakin banyaknya tanggungan, untuk yang sudah berkeluarga minimal 6 bulan gaji atau pengeluaran, sehingga kita memiliki waktu 6 bulan untuk mencari pekerjaan yang baru.

Sakit. Tentu saja langkah utama yang harus dilakukan adalah menjaga kesehatan dengan pola hidup sehat, mengatur makanan dan olahraga teratur. Namun hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah memiliki Asuransi Kesehatan, jika kantor tempat kita bekerja sudah menyiapkan Asuransi Kesehatan dan cukup maka kita tidak perlu membeli Asuransi Kesehatan lagi. Dana Darurat juga menjawab solusi agar jika skenario terburuknya ternyata perusahaan kita sementara memberhentikan gaji selama kita dirawat.

Kematian. Untuk hal ini solusinya sudah pasti adalah kita harus mencari pengganti income/penghasilan yang biasanya ada, lalu menentukan siapa yang bisa melakukan ini. Jika pasangan hidup kita dalam hal ini suami/istri memiliki kesanggupan maka kita tahu bahwa secara nilai ekonomis, keluarga kita tidak harus menderita, namun jika pasangan kita terutama pihak wanita tidak bekerja dan tidak memiliki kompetensi untuk menghasilkan income sebesar yang dulu dihasilkan, maka tugas ini bisa dialihkan ke pihak Asuransi. Asuransi Jiwa yang murni dengan perhitungan yang benar akan dapat meng-cover kebutuhan hidup keluarga, minimal sampai dengan anak terkecil memasuki usia mapan/lulus kuliah.

Kamis, 04 Oktober 2012

Kelola Uang : Cash atau Debit?

Kelola Uang

Cash atau Debit?


Masalahnya, kini jarang konsumen yang membawa uang dalam jumlah banyak. Mereka lebih suka membawa sederetan kartu kredit dan kartu debit di dompetnya. Di samping itu, kini sudah banyak bank yang menyediakan fasilitas transaksi layanan gesek kartu debit atau kartu kredit ini untuk usaha kecil. Sayang kan, kalau kita tidak memanfaatkan fasilitas ini. Bisa-bisa, kita malah mengalami hambatan saat bertransaksi. Misalnya saja saat mengikuti pameran atau eksibisi, ketika banyak konsumen yang membeli dan butuh layanan transaksi yang cepat.

Pembayaran dengan menggesek kartu debit atau kredit dibedakan menjadi dua: online dan offline. Pada pembayaran online, si pembeli mengesahkan pembayaran dengan memberikan nomor PIN. Sementara, pada transaks offline, pembeli mengesahkan dengan menandatangani bukti penjualan.

Pembayaran online berlangsung cepat, nyaman, dan aman. Pembeli menggesekkan kartu debitnya ke mesin pembaca chip atau pita magnetik. Pembeli lalu memasukkan nomor PIN kartunya di PIN pad. Jika dana dalam kartu mencukupi, transaksi akan langsung terjadi. Dana di akun si pembeli akan dipindahkan ke akun pemilik toko dalam 2-3 hari kerja. Si pemilik toko membayar fee transaksi ke bank penyedia layanan transaksi gesek ini sebesar 2,5-3%  dari nilai transaksi.

Untuk bisa menerima pembayaran online, kita mesti memiliki akun di bank penyedia layanan, memiliki mesin pembayaran, printer untuk mencetak bukti transaksi, dan PIN pad. Banyak bank yang menawarkan baik pembayaran dengan kartu debit maupun kredit, namun biasanya persetujuan untuk kedua layanan ini dilakan secara terpisah. Kita bisa memperoleh mesin transaksi di mana PIN pad, mesin pembayaran, dan printer ada di satu mesin, namun bisa juga PIN pad-nya terpasang secara terpisah, namun masih tersambung dengan mesin pembayaran. Apapun jenisnya, yang penting pembeli merasa aman saat mengetikkan PIN-nya.

Transaksi dengan kartu debit ini baru tersedia untuk transaksi secara langsung, belum untuk transaksi di internet. Beberapa institusi keuangan telah memperkenalkan proses transaksi internet dengan kartu debit berdasar PIN ini, namun belum diterima secara luas.

Pembayaran Offline dengan Kartu Kredit
Tidak seperti pembayaran online, pembayaran offline tidak mengikutsertakan PIN.
Pelanggan hanya memberikan kartunya, lalu pemilik toko menggesekkan kartu itu ke mesin pembayaran dan menyelesaikan proses penjualan. Pembeli menandatangani bukti transaksi, yang memberi otoritas kepada penjual untuk menarik uang dari akun si pembeli.

Di internet, konsumen memasukkan informasi kartu kredit itu ke form yang disediakan website si penjual, sama seperti pada pembelian secara langsung dengan cek. Data yang dimasukkan lalu dienskripsi, ditangkap oleh pemroses transaski dan dikirim ke jarigan pemroses kartu kredit untuk diotorisasi. Persetujuan biasanya dilakukan dalam 2-3 hari kerja. Karena transaksi dengan cek ini diproses melalui jaringan yang sama seperti kartu kredit, maka transaksi ini juga memberikan diskon ataupun fee yang sama.

Kedua jenis pembayaran dengan kartu ini memberi keleluasaan bagi pelaku usaha, agar bisa menangkap peluang dari para pembeli impulsif, menghasilkan transaksi yang lebih besar, serta meningkatkan loyalitas konsumen. Namun, pembayaran dengan kartu debit berdasar PIN memberikan keuntungan tambahan, yakni:
•    Fasilitas cash back untuk konsumen
•    Memperpendek antrian konsumen melakukan pembayaran
•    Meminimalkan pemalsuan
•    Jumlah transaski yang berhasil makin meningkat
•    Berpotensi memberikan penghasilan tambahan, misalnya jika ada biaya kirim yang dibebankan kepada konsumen.

Dengan investasi yang minimum, usaha kecil yang menggunakan transaski berbasis PIN ini bisa meningkatkan penjualan dan keuntungan. Kontaklah bank penyedia layanan proses debit ini untuk belajar tentang pilihan-pilihan pembayaran yang ada.